Akhirnya, setelah ditunda post disini, akhirnya ada 'mood' sedikit untuk menulis. Alhamdulillah :D. Ini juga pertama kalinya diposting karya menulis selama hampir...... 5 tahun. Pertama Kali nulis itu judulnya: " Diary Vita di Sekolah" HAHA. Kalau dihitung sama novel tanggung itu hasilnya...7 Novel dan 1 Kumpulan Cerpen (ditambah ini) hehe! Kalau bener2 jadi itu cuma 3 Novel dan 1 Kumpulan cerpen. Diharapkan, kumpulan ini bener2 jadi. Semoga ini menjadi Novel ke 4 yang jadi, Amien!
SEKARANG SAATNYA PEMOTONGAN PITA!!!*saatnya dibuka!!!*
JRENG JRENG JRENG!
Aku memasuki sebuah tempat dimana aku selalu menemukan inspirasi yang besar bagiku. Sebut saja, Galeri. Aku pergi bersama ayahku dan ketika aku melihat sebuah gambar pemandangan yang cukup bagus sekali. Aku langsung memanggil Ayahku, " Ayah, Ayah... Foto itu bagus sekali. Cowo lagi yang foto. Hebat ya". Ayah pun tersenyum melihatku dan berbisik padaku, " Iyalah, biasanya cowo kalau suka sama sesuatu, dia hanya fokus disitu dan sangat menyukai gambar."
Tapi Ayah tampak terkejut saat melihat foto itu. Aku pun bertanya, " Kenapa Ayah?" Ayah tak menjawab apa- apa dan sepertinya ia tahu. Aku pun bingung. Dan semua kebingunganku pun terjawab sejak, seorang anak laki- laki datang menghadap kepadaku dan Ayahku. Dia pun berhenti di hadapan gambar itu dan dengan lantang ia mengatakan,
" Ini gambarku Om! Ini mengambilnya di sebuah tempat di Cianjur saat aku ke Rumah Nenek!Aku memakai Kamera SLR Seri Photographer propesional" Lalu Ayah bertanya, " Sebenarnya siapa yang motret?" "AKU OM! AKU SENDIRI!" Lantangnya dan ekspresi mukanya yang cukup meyakinkan. Ayah terkejut lagi dan berkata padanya, " Kamu terlalu kecil untuk moto dengan kamera berat dan ribet seperti itu." Dan anak kecil itu menjawab, " Sejak aku tinggal di Los Angeles sejak berusia 3 tahun dan aku kebetulan pulang ke sini, aku sudah bisa belajar kamera seperti itu. Sepertinya anak gadis om bisa juga motret kamera. Kalo kita bertemu 5 tahun lagi, mungkin sudah berbeda semuanya. Dengan fokusnya yang sempurna dan disertai pengetahuan yang luas tentang ini, anak gadis om bisa kayak saya" Dia sambil menatapku
Lalu aku bertanya padanya, " eh, kamu Ian? bagus sih gambarnya. Anak seusiamu itu jago banget kayak gini? Anak 11 tahun aja jago. Aku pun bisa photography dari usia 4 tahun!" Padahal di dalam hati, " Ah, itu gampang kok " . Dan Ian pun terkejut, " Sejak kapan kamu tahu namaku anak 10 tahun? Aku udah menebak kalau aku bakalan ketemu seorang pria dan anak yang mempunyai kemampuan untuk mengetahui nama sebelum tahu aslinya.
Aku pun memperkenalkan diriku, " Hai aku Kezia. Senang ketemu sama kamu. " " Aku sudah tahu kok Kalau aku bertemu teman sebaya. Aku tahu kalau kita akan bertemu kembali ditempat yang berbeda, dan situasi yang berbeda. Aku tahu kalau kamu dan aku bakalan berada di tempat yang sama selama beberapa tahun dan Aku tahu kalau kamu....." Akupun tampak kesal, " EH KAMU SOK TAHU APA???" Dan dia menjawab, " Aku anak Indigo, memang kenapa? Apa salah dengan anak Indigo? Aku tahu kamu tapi akutakan kasih tahu kamu karena itu rahasia dan takutnya itu bisa bahaya. Aku bukan anak sok tahu. Aku heran kenapa orang Indigo selalu dibilang peramal padahal belum tentu ia peramal? Dan mengapa jika kita nggak tahu pasti dibilang sok tahu? Itu hal yang sama dengan orang yang ingin melihat bukti. " Dan aku langsung mengerti
Aku bertanya soal pengalamannya dan ia menjawab, " Sejak aku berusia 3 tahun, aku baru memegang photo analog dan photo pertamaku berobject sebuah tempat tidurku beserta mainanku tetapi tehalang dengan kakiku dan jariku jadi gitu deh." Aku tertawa sambil mencari ayahku " Ayah dimana?" Kataku didalam hati. Aku mau menangis. Namun Ian memegang bahuku dan mengatakan, " Jangan menangis, Ayahmu berada di sekitar sini kok tenang saja, Kezia. Nanti ia akan balik menemuimu. " Dan dilanjutkan oleh sang Ibu Ian yang tiba - tiba datang, " Ayahmu nanti akan menemuimu. Dia sedang berada di depan pintu musium." Mereka menyekap air mataku, menceritakan kisah yang lucu dan itu membuatku tertawa, " Makasih Ian, Makasih Tante"
Tiba tiba ayahku datang dan berbisik padaku dan aku dan Ayahku bergegas berpamitan dengan Ian dan Ibu itu. Aku memberikan kalung kamera bewarna Merah padanya dan dia memberikan warna biru padaku. Aku masih bertanya soal yang sama namun aku tetap diam. Beberapa saat kemudian ia mengatakan, " Sampai Jumpa 5 tahun lagi, Kezia. Aku akan merindukan orang yang susah kulupakan sepertimu!"
Semenjak saat itu, aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Yang aku tahu hanyalah dia pindah ke Kuala Lumpur sebulan setelah Pameran. Saat pameran, dia masih tinggal di Los Angeles. Dan aku masih menyimpan kenangan darinya karena ingin membuktikan dan menjawab pertanyaan " Sampai Jumpa 5 tahun lagi"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar