HARI KE 2.
Aku menemani Ibu untuk memetik buah teh. Setiap hari ibu harus naik turun bukit. Setiap hari pula, Ibu melakukan itu. Selain itu dia juga berjualan kue buatan Nenek dan Dirinya setiap Hari setelah memetik teh. Kue Pukis. Rasanya enaaaaak sekali. Ibu tak lelah untuk berkeliling.
" De, cari duit itu butuh perjuangan. kebutuhan sekarang mahal mahal. Sekarang juga serba susah. Gak seperti kamu yang beruntung, kamu udah dikasih kenikmatan. Kamu harus bersyukur sama Allah SWT. Berterima kasihlah, Kepada-Nya"
Aku jadi inget, usaha orangtua buat bahagiain aku udah banyak banget. Aku ngeliat mereka berjualan aja udah ngeliat gimana susahnya cari banyak duit untuk kebutuhan hidupnya. Mereka butuh banyak usaha untuk mendapatkannya.
Saat kami mau pulang tiba - tiba ada yang menantangku main bola, dan bolanya mengenai kepalaku. Aku ingin memarahi mereka tapi...... seorang anak laki- laki, Dafi namanya. Orang yang tinggal di rumahku juga menghampiriku, " Maaf kak. Aku gak sengaja. Gimana main bola bareng temen2ku?" Dia menawariku. Aku pun ikut, meski cuma sebentar. Tingkah mereka lucu dan menyenangkan. Aku melihat sepertinya masa kecilnya sedikit menyenangkan. Mengenangku 12 tahun yang lalu. Aku sepeti mereka meskipun sekarang masa anak2 kecil pada masa sekarang udah berbeda dibanding aku dulu.
Ketika aku sampai dirumah, aku melihat Kartini belajar. Dia amat sangat giat. Dan aku termenung melihatnya. Aku bertanya,
" Kamu ngapain? Belajar?" Dengan muka sumingrah sambil aku heran padanya. Dan dia menjawab cukup tegas dan dia tampangnya ingin berkomentar dan berbicara dengan lebarnya,
" Iya aku belajar. Aku ingin sukses. Semua ingin sukses. Banyak orang disini yang sukses. jadi aku ingin membahagiakan orang tuaku dengan caraku dan kesuksesanku sendiri. Aku gak pingin kayak mereka anak kota yang sombong, sok pamer, sok mewah kayak disinetron. Dan ketika ke sini, mereka merasa disini jijik, takut kotor, malas, sok sokan dan lain lain kayak merasa dirinya kaya dan mampu merasakan segalanya. Padahal yang kaya orang tuanya. Di Desa, Banyak orang yang bekerja keras. Mereka juga ingin sukses. Cari uang susah, semua susah. Banyak Korupsi, Maruk, dll. Itu merugikan orang banyak! Kamu harus bersyukur. Kamu masih diberikan nikmat. Aku tahu gak semua orang kaya sombong tapi cara mereka menikmatinya terlalu berlebihan sehingga muncul sombong "
Aku termenung dengan kata - kata itu..... dia pintar berkomentar. Aku jadi inget perjuangan orangtuaku, masa kecilku yang indah namun sekarang anak2 kecil tidak menikmati masa kecilnya seperti aku dulu. Aku sadar. Mereka ingin tahu bagaimana perjuangannya :(
HARI KETIGA
Alu harus pergi meninggalkan desa itu Aku harus kembali ke Jakarta. Aku Mulai betah di desa itu. Aku harus berpisah dengan mereka :(.
END
Itulah cerita gue, maaf ya kalau ada kesalahan kata dan persamaan nama dan desa. Itu cuma fiksi kok. :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar