"PAAAAA, MAAAAAA masa aku tinggal di kampung yang jauhnya banget2 tan sih? Kan aku bisa titip ke siapa kek. Lebih baik aku dirumah aja deh. Ngapain tinggal disana!" Protesku kepada ayah dan ibuku.Mereka pergi ke luar selama beberapa hari. Dan aku berpikir lebih baik aku tinggal di rumah saja sama mbok lalu aku bisa main bersama teman -temanku. Namun entah alasan apa atau rayuan apa yang membuat mereka menyuruhku untuk tinggal di sebuah kampung yang katanya sering dikunjungi ayahku sewaktu kecil. Lebih tepatnya: kampung kakeknya.
Ayahku pernah bilang kepadaku : Desa itu merupakan tempat kesukaan Papa. Lingkungannya masih bersih, air sungai jernih, dan Indah. Dan ayahku juga bilang, ada satu atau beberapa hal yang membuat dia terkagum2. Sayangnya ketika aku bertanya,
" Pa, kenapa papa kagum dengan desa itu? Gak ada apa2nya. Desa kan kampung, jelek, gak modis penduduknya, masih tradisional pula?"
Ayahku tertawa dan beliau berkata padaku, " Hei, kamu akan tahu sendiri sebenarnya"
Oke itu alasan ayahku, dan ayahku pula yang menyuruhku untuk pergi ke desa itu. Akupun terpaksa mengikuti kata ayah daripada aku kena marah ayahku -_______-.
" KAMU HARUS KE SANA! DARIPADA KAMU DISINI NANTI MALES2AN, NGABISIN DUIT, KELUYURAN!" Kata Ayahku yang sangat menginginkan aku kesana. Apalagi ibu. Ibu sangat ingin aku kesana.
" Kamu gak akan menyesal setelah ke sana" Ujar Ibuku yang cukup menyakinkan bahwa aku gak akan menyesal ke sana. tapi aku tetap tidak yakin ke sana. Dalam perjalanan, aku khawatir Pertama jika aku tinggal di sebuah GUBUK dengan ATAP YANG BOLONG DAN KETIKA HUJAN BOCOR. Kedua, AKU DISURUH KOTOR2AN. Ih Jijay! Ketiga, MAKAN YANG GAK ENAK!
Dan akhirnya aku sampai di sebuah desa. SUKAJAYATIGA namanya *maafkalaupunyakesamaannamadesa.Inihanyacerita* . Disini aku merasa cuacanya dingin, Sejuk. Enaknyaaaa. Tapi......gak ada hiburan gitu deh -___-. Perjalanan masih terus berlanjut sampe akhirnya di sebuah rumah yang amat sederhana. Rumah itu tidak terlalu besar. Juga tidak terlalu kecil. Dan didepan itu, sudah ada seorang ibu, seorang nenek, anak perempuan dan seorang anak laki - laki kira kira berusia 10 tahun. Menyambut kami dengan ramah. Lalu ibuku menyuruhku untuk turun, tapi ayah dan ibu tidak turun. Aku heran,
" Pa, Ma, Kok kalian gak turun? Aku aja nih?" Dan mereka mengangguk. Mereka menyuruhku untuk mengambil barang sendiri dan sebelum mereka pergi, mereka berkata, " Hati - hati ya. Take care". Dan mobil itu pergi. Akupun linglung. Beberapa saat kemudian, Ketika aku bengong, Nenek pun memanggilku. " Kemarilah nak. Nenek akan memberikan kamu kamar untuk tidur dalam seminggu ini." Nenek pun mengajakku ke dalam, dan ke kamar yang akan menjadi kamarku seminggu ini. Dan ternyata, aku berbagi kamar dengan seorang anak perempuan, kira - kira seumurku. Dia berambut panjang, dikepang dua. tampaknya dia sedang mengerjakan sesuatu. Setelah dia tahu aku datang, dia memalingnya pekerjaannya ke arahku.
" Hi, kamu yang dari Jakarta itu ya? Kenalkan, aku Kartini. Usiaku sama denganmu. Kamu siapa?" katanya sambil menyodorkan tanganku.
Secara spontan, aku juga menyodorkan tanganku,
" Ya, Aku Alita dari Jakarta. Senang bertemu denganmu juga :D. Kamu ngapain tuh? keliatannya banyak"
Dia menjawab, " Aku lagi membuat kerajinan, anyaman tas dan membuat hiasan untuk berjualan di Pasar Malam. Setiap Kamis, aku berjualan berkeliling pasar malam tapi jika tidak, aku berkeliling kampung setiap Senin dan Rabu. Yasudah kamu bantu membuat hiasan ya? kamu baru pertama kali membuat itu?"
" Iya..... Tapi kamu ada PR gak? Kamu bisa bagi waktu tidak?" Kataku sambil membuat hiasannya.
" Aku bisa bagi waktu kok. Aku tadi sudah menyelesaikan PRku kok. Setelah berjualan, aku langsung belajar. " Katanya yang sangat menyakinkanku. Dia membuatku berpikir. Dia selalu mengerjakan PR tepat waktu sedangkan dia sering berjualan untuk membantu perekonomian keluarganya. Ibunya seorang petani pemetik teh, Neneknya Pensiunan, Sedangkan Ayahnya? Sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Dia tampak bersemangat mengerjakannya......... Aku pun juga jadi ikut bersemangat...... Dan tidak sabar untuk ikut pasar malam. Beberapa jam kemudian, di pasar malam, barang pun sudah siap untuk dijual. Barangpun habis dilahap pembeli. Dan akhirnya tersisa 3 buah, kami pun berkeliling dan sampai akhirnya abis... Alhamdulillah...... :D
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar